Pages

Showing posts with label Special Needs. Show all posts
Showing posts with label Special Needs. Show all posts

Tuesday, April 17, 2012

Buta bukan hambatan (wawan#part3)


  KONDISI FISIK DAN KEMAMPUAN MOTORIK/ MOBILITAS)

Dengan tinggi sekitar 160 cm dan berat badan 80 Kg, Wawan terlihat seperti halnya orang normal seperti biasanya. Ia memiliki mata yang tampak seperti orang normal, dengan kedua bola matanya yang tetap dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri. Tatapan matanya ke bawah, seperti seorang pemalu apalagi jika kelopak matanya beberapa kali berkedip ketika ingin memulai pembicarannya.

Gerak nya pun baik, tidak kaku dan berjalan dengan santai sekalipun jika dilihat, bentuk tubuhnya dapat dikatakan termasuk gemuk. Wawan memang menggunakan tongkat untuk pergi ke berbagai tempat seorang diri. Namun ketika saya menyodorkan lengan saya ke arahnya, ia segera menggengam bagian siku lengan saya dan berjalan di samping saya. Sesekali ketika melewati jalan yang lebih sempit, saya akan memindahkan lengan saya ke belakang, diikuti dengan Wawan yang segera berpindah ke belakang saya tanpa perlu adanya instruksi yang saya katakan. Ia juga tidak mengalami kesulitan atau ragu ketika harus menaiki tangga manual maupun eskalator (tangga berjalan).

Wawan memang telah  belajar dengan baik orientasi dan mobilitas selama bersekolah di SLB. Ia dapat mengikuti langkah pendampingnya dengan baik ketika didampingi. Namun ia juga dapat menggunakan tongkatnya dengan mahir sehingga membuatnya aman selama berjalan sendirian. Namun di tempat yang sudah dikenalnya dengan baik, Wawan dapat berjalan tanpa bantuan orang lain maupun tongkat. Seperti saat berada di lingkungan rumah, dan kantor.

Selain orientasi dan mobilitas, ia juga mempelajari bidang-bidang lainnya selama bersekolah. Wawan juga mengenal drum dan dapat memainkannya dengan baik sehingga beberapa kali melakukan pementasan dengan teman-teman tuna netra nya yang lain. Mendengarkan musik memang menjadi salah satu hobi yang dimiliki Wawan.

Sementara dalam bidang lainnya seperti olahraga, Wawan dapat bermain tenis meja. Apalagi, kakaknya merupakan seorang atlet tenis meja tuna netra. Sehingga, Wawan dapat menguasai tenis meja dengan baik seklaipun tidak begitu tertarik. Ia memang lebih tertarik dengan musik dan komputer. Ia juga tidak begitu mahir dalam massage sekalipun pernah mempelajarinya.

Jadwal pekerjaannya yang padat dari jam 8 pagi sampai 5 sore membuatnya dapat menyalurkan hobi dan bakatnya di hari libur kantor. Hari libur tersebut benar-benar digunakannya untuk “refreshing”. Biasanya, sepulangnya dari kantor, Wawan hanya mandi, makan, lalu tidur. Jika sempat, dia akan online sebentar untuk meemeriksa pekerjaannya di organisasi KARTUNET atau hanya sekedar membuka media sosial nya seperti Facebook dan Twitter.

Wawan jarang untuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, menyuci, memasak, sekalipun dapat melakukannya. Memasak sendiri bukan hal yang menurutnya menarik untuk dikerjakan. Orangtua Wawan pun sudah mengetahui yang dilakukan Wawan dan member kepercayaan penuh kepadanya untuk dapat mengurus dirinya sendiri. Oleh karena itu, sekalipun sering tidak berada di rumah, seklipun khawatir namun, orangtuanya tetap memberi kesempatan kepada Wawan agar dapat belajar secara mandiri.

Hal ini akhirnya membuahkan hasil juga. Wawan dapat bekerja, pergi ke berbagai tempat seorang diri, dan mengelola sendiri keuangannya dengan baik.

KARAKTERISTIK EMOSI DAN KEMAMPUAN SOSIAL

Ketika pertama kali menghubungi Wawam melalui pesan singkat-SMS, Wawan segera merespon dengan baik tawaran saya. Melalui pesan tersebut, Wawan juga begitu akrab dan tidak kaku kepada orang yang baru pertama kali berkomunikasi dengannya. Menurut temannya yang sesam tuna netra juga, Wawan dikenal sebagai anak yang baik. Salah seorang mahasiswa yang pernah mendampinginya juga mengenal Wawan sebagai seseorang yang ceria dan dapat mengobrol dengan baik.

Emosi Wawan memang stabil, tidak mudah meledak-ledak. Salah satunya ia dapat proses berteater. Selain itu, Wawan dapat berfikiran secara dewasa sehingga menurutnya, segala sesuatunya seharusnya dapat disikapi dengan baik. Sebagai seorang tuna netra, tentunya akan ada beragam perlakuan yang berbeda dari setiap individu. Karakter yang baik itu datang dari dalam diri sendiri, yang dibentuk atas kemauan dari orang itu sendiri.

Salah satu alasan Wawan masuk ke Teater saat SMA adalah membentuk kepribadiannya agar menajdi seorang yang percaya diri serta pemberani. Wawan berjuang untuk dpaat membawakan monolog tersebut dengan baik kepada penonton. Dan hal itu tidak mudah untuk dilakukan sehingga ia pun tidak pernah putus asa untuk memberikan yang terbaik. Hal ini juga terlihat dari keputusannya untuk memasuki sekolah inklusi agar tetap dapat bersosialisasi dengan baik kepada orang banyak.

Hal ini dibuktikannya dengan berusaha bergaul dengan teman-temannya di kelas yang tidak mengalami hambatan seperti dirinya. Menurut Wawan, ia harus terlebih dahulu bergerak untuk dapat berteman dengan mereka, tidak hanya sekedar menunggu. Teman-temannya pun terbuka dengan kehadiran Wawan dan membantunya dalam belajar. Wawan juga merasa lebih nyaman dengan orang-orang yang tidak mengalami hambatan dalam penglihatan sehingga ia pun juga dapat terbantu dan mengetahui lebih banyak hal.

Kemampuannya untuk berusaha memiliki sosialisasi yang baik dengan banyak orang juga membuatnya mudah untuk melakukan pendekatan (PDKT) dengan beberapa wanita. Sudah 6 kali berpacaran, hanya satu wanita tuna netra di antara enam wanita tersebut. Lewat proses pacaran, Wawan mengharapkan seseorang yang dapat menerima dirinya apa adanya serta memahami kondisinya. Pacaran tidak digunakannya untuk sekedar bermain-main. Mulai dari kelas 3 SMP, Wawan mengenal kata berpacaran. Sekalipun berawal dari sekedar main-main, saat ini dia mulai ingin berpacaran dengan serius.

Emosi Wawan memang stabil dan dia dapat bersosialisasi dengan baik. Berdasarkan penuturan dari temannya dan salah seorang pendampingnya, Wawan memang lucu dan mudah bersosialisai. Karena itu, Wawan pun seringkali merasa lebih nyaman dengan teman-temannya yang bukan tuna netra. Temannya yang bukan tuna netra juga jumlahnya lebih banyak. Ia mempelajari untuk dpaat mengenal sifat atau perasaan seseorang tidak hanya dalam sekali perjumpaan. Biasanya, ia akan lebih mudah memahami karakter seseorang ketika beberapa kali berinteraksi dengan orang tersebut.

Karena itu, tidak sulit bagi Wawan jatuh cinta ketika bertemu dengan seseorang yang dapat membuatnya nyaman serta dapat menerima kondisinya. Saling mememahami orang lain, agar ia pun dapat dipahami dengan baik, itulah yang diusahakan Wawan agar dapat diterima di tengah masyarakat sekalipun memiliki keterbatasan fisik.

Hal ini juga akhirnya membantunya dapat bekerja dengan baik di kantornya sekarang. Sekalipun di antara 60 karyawan kantor, terdapat 10 karyawan lainnya yang juga tuna netra, tidak berarti Wawan hanya bergaul dengan yang tuna netra. Dengan teman-teman kantor lainnya yang bukan tuna netra, Wawan sudah akrab dan dekat bahkan melebihi dengan penyandang tuna netra sekantornya. Baginya, berbagi pengalaman dan cerita dengan banyak orang menambah wawasannya untuk mengenal dunia lebih luas.


BERSAMBUUUUUNNGGG...

Monday, April 16, 2012

Aku Buta, dan Aku Berteater (wawan#part2)


RIWAYAT PENDIDIKAN DAN KEMAMPUAN AKADEMIK (PRESTASI BELAJAR)

Wawan tetap bersekolah seperti anak seusianya. Di usia 6 tahun, ia memasuki sekolah umum dengan hambatan penglihatan yang masih memungkinkannya untuk dapat membaca dan menulis. Namun, ketika Wawan mulai mengalami kesulitan karena penglihatannya yang semakin menghilang dan rasa sakit di kepala jika terlalu memaksakan matanya untuk fokus dapat melihat, akhirnya Wawan tidak melanjutkan sekolahnya di sekolah umum. Sempat berfikiran untuk tidak sekolah dalam beberapa waktu, orangtuanya lebih memilih untuk memasukkan Wawan ke dalam SLB Pembina yang terletak di kawasan Lebak Bulus.

Orantuanya berharap dengan memasukkan Wawan ke SLB, Wawan dapat menulis serta mengetahui mobilitas bagi tuna netra. Pengalaman dengan kakaknya yang lebih dahulu mengalami kebutaan membuat orangtua Wawan dapat memikirkan langkah yang lebih baik bagi Wawan untuk mengatasi hambatannya. Setelah memperoleh berbagai keterampilan yang diperlukan sebagai tuna netra serta keterampilan-keterampilan yang dapat dilakukan oleh tuna netra seperti bermain tenis meja, drum, menulis dan membaca dalam Braille,menggunakan computer, dll.

Akhirnya, setelah lulus kelas 6 SD dari SLB Pembina, Wawan lebih memilih masuk ke SMP 226 yang terletak di Jalan Cilincing Bhakti VI, Jakarta Utara dan merupakan salah satu sekolah inklusi. Tidak banyak kendala berarti yang ditemukan Wawan karena sebelumnya ia pernah bersekolah di sekolah umum. Sehingga ia mengetahui bagaimana untuk “mencuri hati” guru, bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain, serta sistem belajar di sekolah umum yang memang tidak sama dengan cara pembelajaran di SLB. Wawan dapat melewati masa SMP nya dengan baik. Tidak tergolong sebagai murid yang terlalu pintar, namun juga tidak berarti mendapat prestasi yang rendah di kelasnya. Lewat usaha kerasnya, Wawan dapat lulus SMP dan masuk ke SMAN 66 sebagai salah satu sekolah inklusi yang terletak di Jalan Bango 3 Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Di sekolah ini, Wawan semakin memperoleh banyak pengalaman. Memilih jurusan IPS ketika duduk di kelas 11 (2 SMA), Wawan paling menyukai pelajaran sejarah. Namun, ia mengalami kesulitan yang lebih besar dibandingkan ketika masih SMP dalam pelajaran matematika. Nilai matematikanya selalu yang paling jelek di raport. Namun beruntung, di sekolahnya yang inklusi terdapat guru-guru pendamping yang membantu Wawan secara khusus. Biasanya, guru-guru pendamping akan memberi tambahan jam kepada Wawan sendiri sepulang sekolah agar ia dapat menguasai matematika dengan metode khusus. Guru-guru pendamping ini memang sudah mengetahui cara-cara serta asssement yang tepat bagi tuna netra.  Selain itu, Wawan juga memperoleh bantuan dari pihak Mitra Netra sebagai lembaga yang memberi pelayanan untuk membantu tuna netra berupa tutorial secara khusus untuk pelajaran Matematika.

Namun, di dalam Ujian Nasionalnya, Wawan memperoleh nilai Matematika paling tinggi dibandingkan mata pelajaran yang lain. Hal ini menjadi menarik karena, matematika yang membutuhkan visual dalam memahami symbol, kode, maupun gambar dapat dilewati Wawan dengan baik sehingga ia pun lulus dari SMAN 66 pada tahun 2011.

Namun menurutnya, faktor keberuntungan belum menghampirinya untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mengikuti SNMPTN dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) pada 2011, Wawan yang berniat untuk mengambil Bimbingan dan Konseling (BK) atau Sejarah di Universitas Negeri Jakarta belum berhasil. Namun hal ini tidak mematahkan semangatnya sehingga ia memutuskan untuk mencari peekrjaan dahulu selama menuggu SNMPTN 2012.

Di SMA juga, Wawan mengenal Teater. Ia mulai bergabung dengan Teater di kelas 11 SMA. Pementasan pertamanya diadakan di Auditorium GRJS (Gelanggang Remaja Jakrta Selatan) Bulungan. Dalam pementasan yang menjadi rangkaian dari Festival Teater SLTA tersebut, Wawan beserta teman-temannya dari Teater Terasontime SMAN 66 menampilkan pementasan dengan judul “Eng-Ing-Eng”. Wawan di tengah keterbatasannya memperoleh kesempatan untuk bermain monolog. Di kemunculannya pertamanya ini, Wawan tidak mengalami kesulitan yang berarti karena ia hanya perlu membacakan dialognya secara monolog (seorang diri tanpa ada respon dari pihak lain-seolah olah berbicara seorang diri). Namun di adegannya yang kedua, Wawan diharuskan berlari ke tengah penonton dan ia terjatuh di tengah adegan tersebut. Hal ini akhirnya membuat beberapa temannya segera menolongnya yang terjatuh dan memnuntunnya keluar dari panggung.

Bagi Wawan, Teater sendiri memberi banyak pelajaran dan pengalaman kepadanya. Ia dapat mengenal orang-orang hebat di Teater seperti Dindon WS yang juga menjadi juri dalam Festival Teater SLTA tersebut. Selain itu, mengeksplorasi gerak tubuh yang selama ini terbatas baginya dan bagaimana menyelami berbagai karakter manusia.


bersambunnnggg...

Mengapa Aku Tak Melihat (wawan#part1)

Dikejar kejar tugas Observasi Tuna Netra, gue akhirnya bertemu dengan seseorang bernama Wawan (nama sebenarnya) sebagai nara sumber gue. Dan sepertinya, kisah Wawan terlalu mubazir kalau hanya mendekam di folder notebook gue dan meja dosen gue. Jadi, silahkan membacanya  



RIWAYAT MUNCULNYA KECACATAN

Terlahir sebagai bayi yang normal, ibu dari Yudi H******* atau yang akrab dipanggil Wawan memang berada di dalam kondisi yang baik semasa mengandung Wawan. Proses kelahiran pun berlangsung normal tanpa adanya operasi maupun cara alternatif proses kelahiran lainnya dengan bantuan bidan.Namun, di saat usianya mulai menginjak 2 tahun, Wawan terserang demam tinggi.  Pada saat itu, dokter hanya mendiagnosa bahwa Wawan hanya terserang demam biasa tanpa adanya efek samping yang terlihat. Namun, ketika Wawan mulai menginjak balita, orangtuanya mulai melihat kejanggalan yang terjadi pada perkembangan diri Wawan.

      Wawan tidak peka terhadap rangsangan suatu benda yang terlihat dan akan merespon ketika ada suatu sentuhan maupun suara tertentu. Orangtua Wawan yang merasa bahwa Wawan mengalami gejala yang sama seperti yang dialami kakaknya yang juga mengalami Totally Blind akhirnya segera membawa Wawan ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa Wawan mengalami gangguan dalam penglihatannya. Namun dokter belum dapat memastikan penyebab gangguan tersebut terletak pada organ mata itu sendiri atau syaraf penglihatan  .

      Kondisi ini terus berlangsung sampai Wawan duduk di bangku kelas 4 SD. Penglihatannya yang tersisa masih memungkinkannya untuk membaca dan menulis sekalipun dengan spidol atau pensil 2B yang memudahkannya dalam membaca lebihjelas. Perlahan tapi pasti, penglihatan tersebut tidak semakin baik namun akhirnya semakin menghilang yang menyebabkan Wawan harus pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar dapat belajar lebih baik.

      Usaha untuk mengembalikan penglihatannya juga sudah dilakukan oleh keluarga Wawan. Menurut rekomendasi dokter, Wawan diusulkan untuk menjalani operasi mata di Jerman. Namun ketika pihak Jerman meminta kepastian penyebab kebutaan Wawan, diketahui bahwa penyebab gangguan penglihatan pada Wawan terletak pada syarafnya  . Hal ini menyebabkan operasi mata pada Wawan tidak dapat dilaksanakan. Pengobatan yang dijalankan oleh Wawan pun tidak membuahkan hasil yang berarti.

            Meskipun demikian, masih ada sedikit sekali penglihatan yang tersisa dari mata Wawan. Wawan masih dapat melihat sedikit bayangan dan melihat cahaya. Jika Wawan memfokuskan matanya, ia dapat melihat suatu bayangan dengan lebih jelas. Namun, itu hanya akan membuat kepalanya pusing sehingga ia pun tidak sering melakukannya. 

Bersambungggggg...

Saturday, January 7, 2012

Special Needs Education


Masih semester awal, terlalu cepat untuk mengatakan apakah gue masuk ke jurusan yang tepat atau enggak. Hahahaaha

Tapi yang gue tahu pasti adalah, ga ada keputusan yang salah ketika kita sudah memikirkannya dengan baik dan bijaksana. Itu semua tergantung ke bagaimana kita menjalankan keputusan yang kita ambil. Sekalipun kita menganggap keputusan yang kita ambil benar dan tepat, toh akhirnya kalau ga dijalankan dengan baik, hasilnya pun ga akan baik kan?

Kecuali, lu tahu menerobos lampu merah salah dan lu masih tetap mengambil keputusan itu. buat gue , itu adalah BODOH. Mengambil sebuah keputusan itu harus banyak faktor yang dipikirin. Dari segi negative, positif, sudut pandang orang lain, dampak, dll.

Jadi.. karena emang udah serius bergumul dengan jurusan ini, hal selanjutnya yg bisa gue lakukan ya Cuma minta pimpinan Tuhan untuk membuat keputusan ini baik adanya. Hahahahahahaa

Nah, sekarang mari membahas Pendidikan Luar Biasa.big grin

Awalnya, gue pikir ini adalah jurusan yang tidak ditakdiran buat gue. Wkwkwkwkwk rolling on the floor
Sejak awal, niat gue adalah untuk ikut PMDK (waktu itu). karena itu, gue ga berniat untuk ikut ujian tertulis. Kalau emmang ada cara praktis buat ga ikut ujian, ngapain juga gue susah-susah lagi ujian. Itu yang ada di pikiran gue saat itu. Hahahahaa

Udah gitu, gue ga ikut bimbel2 begituan. Yg ada, gue ngajar bimbel anak SD seminggu sekali. Hahahaha
Ya paling ga, gue ada pemasukan uang kan, bukan pengeluaran. Banyak hal juga yang bisa gue lakukann sementara ga bimbel. Antara lain ya ngerjain PR dan ngumpulin sertifikat sebanyak-banyaknya buat ngebantu lolos PMDK.

Sialnya gue saat itu ternyata, Fakultas Ilmu Pendidikan seluruhnya ditujukan untuk IPS. Maka pupus sudah harapan gue untuk ikut PMDK karena gue dari IPA. Hahahahaharolling on the floor
Tapi ternyata Tuhan baik. Di tahun itu juga, PMDK diubah dengan SNMPTN Undangan dan bisa lintas jurusan. Hahahaahaha

Maka akhirnya, loloslah gue masuk ke jurusan ini. Dan berikut sepintas mengenai Pendidikan Luar Biasa selama semester satu ini.big grin

Jurusan gue ini dikhususkan untuk memepersiapkan pendidik yang lulusannya akan dikasih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 108/BAN-PT/Ak-X/VIII/2007, jurusan ini udah terakreditasi nilai A. Jurusan ini memang masih baru dan belum banyak diminati.

Dalam salah satu pembicaraan gue dengan dosen gue dan teman-teman yang lainnya, dosen gue berhasil bikin gue ngeyakinin gue untuk tetap di jurusan ini. Dia bilang, alasan dia dulu pilih jurusan ini adalah karena ga banyak yg tertarik, berarti lapangan pekerjaan pun ga perlu bersaing ketat. Sementara kebutuhan akan Anak Berkebutuhan Khusus akan terus meningkat. Karena semakin maju teknologi dan masa saat ini, akan tercipta semakin banyak penyebab timbulnya kebutuhan khusus pada seorang anak. Bingung? Masuk jurusan ini lah supaya ngerti.big grin Hahahahaaa

Yah intinya, dari awal ternyata memang gue udah punya minat dalam bidang ini. Berawal dari gue nonton film I am Sam. Kemudian Hans yang ngajakin gue ngajarin anak-anak jalanan di GKI Pang-Pol, kayak ada beban lebih untuk ngejarin anak-anak yg ga diperhatikan dengan baik. Dan kemudian, gue nonton Drama SUPER ROMANTIS dari Taiwan yang judulnya Silence. Di situ, si cewek yang bisu bikin gue suka banget ketika dia berbahasa isyarat. Dan waktu SD, gue kagum banget dengan sosok Hellen Keler lewat komik seri tokoh dunia yang dibeliin bokap. Hellen yang seorang tuli dan buta mampu membuat gue bersyukur no matter how’s my condition.

Kualifikasi  sebagai tenaga pendidik dan ahli pendidik untuk PLB antara lain:
  • ·         Terampil mengajar untuk semua jenis individu berkebutuhan khusus (IBK)
  • ·         Mampu mengelola pelayanan pendidikan untuk semua jenis IBK
  • ·         Mampu memberikan jasa pelayanan pendidikan khusus kepada orangtua, keluarga, dan masyarakat
  • ·         Terampil merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran untuk individu dengan kebutuhan khusus baik sistem persekolahan maupun non persekolahan.
Dan untuk mencapai itu semua, butuh begitu banyak kompetensi yang membantu kita mencapai tujuan keempat hal di atas. Dari segi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Oke, secara singkat gue akan jelaskan kompetensi-kompetensi di atas.


  • ·         Kompetensi pedagogik itu ialah kemampuan kita dalam mengidentifikasi potensi, hambatan, serta kebutuhan peserta didik yang kemudian kita harus mampu merancang pembelajaran yg sesuai. Kalau udah, kita harus menguasi  pendekatan, metode, serta media pembelajaran yg sesuai dan mengaitkannya ke aplikasi bidang keahlian khusus. Dengan demikian, pembelajaran yg sesuai dapat terlaksana dengan ikut menerapkan prinsip&prosedur evaluasi belajar. Intinyab adalah akhirnya hasil tersebut dapat dimanfaatkan, dan kita dapat terus memodifikasi serta melaksanakan assessment yang tepat.
  • ·         Kompetensi kepribadian mengharapkan kita supaya terlebih dahulu berempati(bukan sekedar simpati) terhadap individu berkebutuhan khusus. Sehingga ada komitmen untuk memperjuangkan hak dan kewajiban IBK serta komitmen terhadap tugas professional guru PLB .
  • ·         Kompetensi Profesional itu lebih ke keahlian khusus yg dibutuhkan oleh keragaman IBK dan bisa melaksanakan penelitian guna meningkatkan mutu layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  • ·         Kompetensi Sosial ya pastinya adalah bagaimana sosialisasi kita dengan para ahli, rekan, lingkungan keluarga dan masyarakat supaya bisa bekerja sama dengan baik dalam proses pendidikan ABK.

Nah, begitu deh. Hahahaha
Jurusan ini biasanya jarang yang lulus cepet. Kenapa?

Habisnya, walaupun lulus tepat waktu(4 tahun) itu kita Cuma lulus doing tapi belum dapet sertifikasi guru. Ya dengan kata lain, belum sah lah jadi guru. Kita harus ambil satu tahun lagi untuk dapet sertifikasi guru. Karena guru sekarang udah dianggap sebgaia profesi kayak dokter yang ga Cuma sekedar lulus begitu doang. Dan satu-satunya yg berhak ngeluarin sertifikasi yang diakui pemerintah itu ya UNJ (kalau ga salah. Hahahahaha).

Dengan minimal udah ngambil SKS 128-144, kita bisa lulus dari jurusan ini. Senior gue di PLB banyak yang mepet lulusnya karena umumnya mereka udah pada kerja bahkan ketika semester tiga. Saking asyiknya kerja, ya kuliah jadi ditelantarkan. Hahahahaha

So far, gue ga bosen dengan dunia PLB. Meskipun, gue terkenal males ngampus untuk Mata Kuliah umum(MKU). Hahahahaa
Tapi mata kuliah khusus jurusan kayak Pengantar Ilmu Pendidikan(PIP), Pengantar Pendidikan Khusus(PPKh) dan Neuroanatomi bener-bener gue minatin dan selalu dapet nilai yang bagus. Heheehehe
Gue menikmati setiap proses untuk semakin mengenal dunia Pendidikan Luar Biasa yang gak ada batasnya kalau ngomongin masalah karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus.
Do you feel interested? Gue sih seneng-seneng aja kalau ga ada yang tertarik. Jadi kan lahan kerjaan gue ga makin berkurang. Hahahahaha rolling on the floor

Maka, lewat kesempatan ini, gue ingin menyampaikan bahwa

Intan tersembunyi di dalam lumpur yang kotor dan dalam

Carilah sebaik-baiknya intan di dalam hidupmu
 Here they are some pictures of us Special Need Education 2011







He is Tarub. He is my classmate who has totally blind :)


PLB= Parent's Love Begin....


Special Needs Education. Atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, namanya Pendidikan Berkebutuhan Khusus. Tapi dalam Fakultas Ilmu Pendidikan maupun dunia pendidikan, lebih dikenal dengan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Pendidikan macam apa yang dilakukan sampai bisa dibilang luar biasa ya?happy

Jurusan ini pertama kali gue tahu dari majalah Hai yang ngebahas. big grin Waktu itu temanya menarik banget, 7 jurusan yang kurang diminati tapi (tapi gue lupa terusannya. Hahahahaha. Kalau ga salah yang patut diperhitungkan). Dan jangan kaget, ternyata teman-teman satu jurusan gue pun banyak yang tahu jurusan ini juga dari majalah Hai.

Dari awal, gue yang memang mau jadi guru dan gak tahu mau ngambil spesifikasi apa, kayak disiram air es pas musim kemarau tahu gak. Gue memang lagi mau serius mikirin masa depan gue (taelaaaaaaaaaaaaaaaa. Hahahahahaa laughing) tapi gue ga tau mau ke mana. big grin Banyak yang jadi pertimbangan gue saat itu. begitu tahu mengenai jurusan itu dari majalah temen gue, besoknya gue langsung beli majalah itu dari koperasi sekolah. Harga majalahnya jauh lebih murah daripada yang gue beli di agen. Hahahahaaha laughing

Jadi dengan uang jajan pas-pasan 5rb sehari, dengan uang jajan itu gue beli majalahnya pas hari olahraga (inget banget gue.kabur dari lapangan dan malah ke koperasi karna takut kehabisan. big grin Bahahahaha) Buat gue, Tuhan memang lagi mau ngasih gue arahan dengan nyediain uang majalah yg sesuai budget. Wkwkwkwkwkwkwkwk rolling on the floor

Begitu gue bawa pulang majalahnya dan gue baca dengan seksama, hal selanjutnya yg gue lakukan adalah berdoa sama Tuhan. praying Berusaha lagi ga ke-GR dang a mau salah pilih jurusan. Berabe banget kan kalau sampe gue salah jurusaaaaannnnn. Secara otak gue pas-pas an banget.
Pas buat berfikir layaknya jenius.
Pas buat mikirin dengan serius rancangan nuklir.
Pas untuk ngelebihin kemampuan Steve jobs nyiptain apple’s products.
Wakakakakakakakaa rolling on the floor
Dan pas buat jadi orang ga beres yang punya khayalan tingkat tinggi.big grin

Sambil meyakinkan diri, gue berusaha searching tentang jurusan ini. Kemudian hal selanjutnya yang gue tahu setelah yakin dengan beban gue dan sedikit tentang dunia PLB, gue mensharingkan hal ini. Saat itu, yang gue fikir adalah kalau bonyok ga ngasih izin, berarti ini bukan jalan gue. Karena gue tahu, bonyok gue adalah orang yang paling memikirkan masa depan yang terbaik buat gue dan tahu kemampuan gue.
Hal ini udah teruji dan gue berterimakasih ke mereka. Ketika SMP, mereka berusaha masukin gue ke SMP Strada, bukannya SMP Ngeri Negeri. Karena gue memang saat itu udah diprediksi mereka ga akan punya nilai yang cukup untuk masuk ke SMP Negeri.big grin Hahahahaaha laughing

Dan mereka tahu kualitas SMP Strada saat itu baik untuk perkembangan gue. Waktu SMA, gue minta mereka masukin gue ke SMA Tarakanita. Tapi mereka menentang keras bahkan gue sampai kabur dari rumah karena berantem hebat dengan mereka. Hahahahahaa. Waktu  itu gue ga yakin dengan kemampuan gue lulus dengan NEM yang cukup untuk masuk negeri.

Tapi gue kembali berterimakasih ke mereka karena melarang gue masuk ke SMA 8 atau 70 karena masalah jarak padahal, NEM gue saat itu sangat cukup.happy Mereka yang ngeyakinin gue kalau gue bisa lulus UN dengan nilai yang bagus karena memang gue pas SMP ga sebodoh sekarang. Wkwwkwkwkwk
Dan akhirnya gue terjebak di SMA 90 dan bisa dapet pengalaman luar biasa fantastis yang lebih bagus dari cerita-cerita masa SMA di novel-novel ataupun film. Wkwkkwwkwkwk rolling on the floor

Ya, walau memang awalnya seringkali kita menganggap pilihan kita yang paling benar dan orang tua kita hanya memikirkan dari satu pihak, satu hal yang gua tahu pasti. Mereka mengharapkan yang terbaik buat kita. big grin Karena itu, kalau bonyok sibuk kerja banting tulang, dan mungkin seringkali ga punya waktu buat kita, mereka lagi berusaha menjamin  masa depan kita. Kalau mereka sering marah-marah, lihat dulu.happy Siapa tau mereka lagi capek dan banyak pikiran tapi kita datang ke mereka dengan cara yang ga tepat dan memancing emosi mereka. happyEntah itu dari topik yang kita sampaikan, cara intonasi dan sikap kita, dll.

Nah, balik ke jurusan PLB. Setelah gue sodorkan majalah ke nyokap, gue udah ketar ketir. praying Berusaha ngebawel ke nyokap supaya dia terbujuk.big grin Tapi dia terus serius ngebaca kalimat demi kalimat di artikel yang ada tanpa menggubris bawelan gue. Bokap juga penasaran dong dengan yang dibaca nyokap. Pas ditanya;
Bokap   : baca apa toh?
Nyokap                : ini loh. Pendidikan luar biasa. Yang nanti ngajar di SLB, anak-anak autis.
Bokap   : oooohh.. kamu mau ngajar begituan toh? Ntar diilerin anaknya mau? (terus ketawa cekikian sama nyokap)
Nyokap                : halah piiinn. Kamu kok mau ngajar anak begituan. Lah kamu aja ngurus diri sendirimu aja ga bisa. (sambil cengengesan)
*gue Cuma cemberut ngelihat mereka berdua*
Nyokap                : lah kamu bisa sabar gak ngadepinnya?
*gue langsung excited banget dengan pertanyaan nyokap dan jawab dengan bijak*
Gue       : ya namanya juga belajar ma. Nanti juga bisa kok.
Bokap   : yowes. Lah kamu ngajarin mereka juga sama aja toh? Kamu marah juga mereka paling ga ngerti. Memang apa yang mau diajarin?
*denger pertanyaan bokap, gue thanks God banget udah bener-bener persiapin diri dengan jurusan ini lewat searching di internet*
Gue       : ya kan aku belum tentu juga pak ngajarin yang autis. Bisa juga tuna netra, tuna rungu,sama yang lain. aku juga udah doain dengan serius kok (tandas gue dengan mantap di kalimat terakhir)
Nyokap                : yowes. Tapi mahal gak masuknya?
*gue Cuma menghembuskan nafas terakhir dari hidung gue dengan pelan.  Lagi-lagi masalah ini. Masalah sekolah dulu juga ada sangkut pautnya sama masalah ini. No doubt about the power of money! It controls us without we realize it!*
Gue       : ga semahal UI kok mamoney eyes (ucap gue pelan dan agak sakit hati. Hahahahahaa. Kenapa?)

Awalnya, gue mau banget masuk UI. happy Ngambil jurusan sastra jepang atau gak Psikologi. Tapi bonyok gue menentang keras. Hahahahaa. Mau gimana? Gue ga bisa egois dengan Cuma mikirin kesenangan gue. Gue cinta banget sama bahasa jepang dan tertarik saat itu. Tapi seiring dengan larangan bonyok yang menganggap prospek yang ga pasti dan biaya yg pasti besar ga sesuai kemampuan bonyok, gue Cuma bisa pasrah. Walaupun gue udah ngeyakinin mereka dengan gue dapet beasiswa dan adanya keringanan biaya, bonyok tetep ga setuju. shame on you Maka terkubur lah dalam-dalam impian gue untuk dapet jaket kuning. Wakakakaakakaka rolling on the floor

Mereka juga yang ngingetin gue bahwa cita-cita gue dari awal adalah jadi seorang guru.big grin Bukan sekedar lulusan sebuah universitas bagus yg belum tentu bisa jadi guru.mungkin sih memang bisa kerja di tempat prestis, tapi mengingat dari awal adalah niat gue menjadi seorang guru yang bisa ngajarin anak-anak, maka gue Cuma bisa mesam mesem. heheheehee
Bahkan, ketika gue udah keterima di PNJ lewat jalur undangan, bonyok minta gue segera ngebatalin masuk ke PNJ. Padahal gue udah registrasi ulang dan laen-laen. Tapi ketakutan bonyok gue akan biaya dan prospek kerja jauh lebih besar. I couldn’t say anything because I realized that my parents who have been looked the money for me.money eyes

Tapi ga seburuk itu kok. Berkat niat gue dulu tentang psikologi, itu juga kepake dalam “pekerjaan” gue saat ini. big grin Gue juga akan dapetin di psikologi gue ini. Dan ternyata, psikologi UI itu juga jadi salah satu pesaing berat PLB dalam hal autism. Hahahahaa . Dan saat ini gue bisa dapetin beasiswa di kampus dari pemerintah.
Semester satu udah gue lewatin dengan IP yang gue ga tahu berapa.Hehehehee big grin

Tapi tentang jurusan ini, gue akan jelaskan di postingan selanjutnya berjudul Special Need Education.
Dari cerita ini, gue mau share bahwa
Orang tua kita mengharapkan yang terbaik buat kita dengan cara mereka anggap terbaik.
Berterimakasih sama orangtua gue yg sudah gue anggap “sok tahu” shame on you dengan mengatur jurusan yang harus gue ambil. HAHAHAHAHAHAAA laughing

RESPECT OUR PARENTS NO MATTER HOW BAD THEY ARE IN OUR EYES
My Beloved Family

Friday, September 9, 2011

Bodohnya Pendidikan di Indonesia

­­Mau tahu kegilaan system pembelajaran di Indonesia? Efek samping dari system pendidikan Indonesia yang terpacu pada nilai dan biasanya disebut SKM. Gue sendiri gak begitu inget itu singkatan dari apa. Lalu,apakah masalahnya dari system pendidikan itu?

Bohong BESAR BANGET menurut gue kalau ada yang bilang system pendidikan di Indonesia udah baik. Sini, ketemu sama gue dan adu bacot ma gue (tapi lihat ukuran badan juga ya. Heheheehehe)
Oke, gue emang emosi banget sama system pendidikan di Indonesia yang sebenernya justru ngebodohin anak-anaknya dan menyengsarakan banyak rakyat.

Apa faktanya?

Ada. BANYAK.

Dan ini adalah sebagian yang bisa gue lihat dan entah gue alami atau tidak.

System pendidikan di Indonesia itu bersifat Kompetisi.
*loh? Bukannya itu malah baik ya step?

Yak, baik sekali. Baik untuk tempat-tempat bibingan belajar non-formal yang memasang iklan sebanyak-banyaknya demi membuat siswa-siswa tertarik untuk mendaftar dengan UANG. Semakin besar UANG yang dimiliki, makin besar kesempatan untuk mendapatkan penanganan ilmu yang lebih baik dan jaminan masuk sekolah maupun perguruan tinggi terbaik. Kenapa akhirnya bisa begitu?
Apakah masyarakat kita begitu bodohnya sehingga termakan janji-janji serta iklan yang ditawarkan oleh para bimbel bimbel itu?

Jangan salahkan mereka yang pada dasarnya hanya mengambil kesempatan di tengah kebodohan kesempitan. Ya, bimbel-bimbel laris manis karena pola piker orang tua serta siswa yang lebih dahulu terdoktrin akan pentingnya sebuah pembelajaran efektif di luar sekolah.

Sekolah dianggap tidak memberi ilmu yang cukup karena satu guru-atau 2 guru dalam satu kelas harus mengajari sekitar 30-40 siswa.  Ada apa dengan ilmu yang diberikan oleh guru itu? Karena jika sang siswa tidak memahami pelajaran, maka nantinya ketika ujian, dia bisa dapat nilai jelek, remedial, dan dianggap BODOH. Well, memang begitulah pentingnya angka di atas 7 untuk menjauhkan emosi orangtua ketika menerima rapor.

Bukankah akhirnya baik karena siswa belajar dengan sebaik mungkin?

Lihat aja nih adek gue yang kemaren belajar matematika persis orang stress

SAMBIL NGEMIIIILLL MULU

BELAJAR SAMBIL MAKAN

DIA BELAJAR PAKE TOPI MALEM MALEM ??!!!

SAMBIL JOGET-JOGET DENGAN LAGU DARI RADIO


Ya, dengan baik sampai akhirnya Memaksakan diri mereka.  Sadar atau gak, yang mereka pelajari mati-matian kebanyakan hanyalah untuk meraih nilai baik ketika ujian. Kalau sudah begitu, masa depan tampaknya bagus. Benarkah itu?

Gue gak melihat hal itu di Thomas Alfa Edison, Bill Gates, atau Tom Cruise sekalipun.
Search aja di Google kalau gak percaya.

Sedih memang mengetahui system pendidikan di Indonesia akhirnya memaksa siswanya untuk punya  ingatan dan memori yang kuat. Padahal, gak semua siswa memiliki kemampuan itu. Gak semua siswa jago menghafal tapi berbakat di music atau olahraga, gak semua siswa jago dan cepat menghitung dan menghafal rumus, tapi dia jago banget sama yang namanya berfikiran logis dan berbicara, dan masih banyak hal lain yang gue temui.

Gue akuin, gue pinter  gak bodoh pas SMP. Gue bisa dapet nilai top cer di semua pelajaran tapi, tanyalah semua pelajaran SMP ke gue. Mungkin sekarang gue Cuma akan Tanya ; emang ada pelajaran itu ya dulu? Heheheehe

Sedih memang apalagi siswa gak tahu tujuan mereka mempelajari dan menghafal itu semua buat apa. Karena jujur, sekarang gue sepertinya tidak menggunakan semua ilmu yang udah gue pelajari selama SMP-SMA. Gue hanya mengetahui beberapa pelajaran, tanpa benar-benar mengingat dan mengaplikasikan  pelajaran-pelajaran tersebut dalam kehidupan ataupun pekerjaan gue nanti.

Justru yang gue dapat dan gue aplikasikan lebih banyak ketika gue berorganisasi, atau melakukan hobi gue, atau berinteraksi dengan banyak orang dibandingkan duduk diam dan baca buku sambil mulut komat-kamit.

Bukankah itu juga bisa disebut belajar ?

Dari dulu, kalau bonyok udah teriak ; Belajar Kamu!!!
Pasti kebanyang buku pelajaran,.pulpen, duduk, ngafal, dan setres .
Tapi kalau sekarang, gue disuruh belajar, jangan coba-coba gue akan langsung duduk diam dan baca buku.

Pertanyaannya; mau aku belajar apa?

Belajar menghormati orang lain? Men, teori di buku PKN gak ngaruh tuh ,kalau gak dipraktekin ke orang banyak.
Belajar presentasi? Gak cukup Cuma beli buku di bagian Relasi di took buku, coba dan asah terus-menerus, baru bisa bikin kita jago ngomong di depan umum.
Daaannnn masih banyak hal lain yang seharusnya kalian pahami arti sebenarnya dari BELAJAR.

Kalau Cuma berorientasi dengan sekolah/uneversitas bagus, lulus dapet gelar, kerja, dan tajir… lebih baik sekarang kalian tobat. Meeeennnnnnnn
Buat apa itu semua? Kalau ternyata, Tuhan pun gak pernah lihat seberapa pinter kita, seberapa kaya kita, atau seberapa hebat kita. Mati pun, itu semua gak kita bawa. Kecuali lo mau kaya untuk bantu orang lain, so far, gue  akan kasih semua jempol yang punya.

Akhirnya, balik lagi ke system pendidikan Indonesia yang mencetak banyak siswa dengan pola pikir seperti berikut. Akhirnya, kompetisi itupun berlanjut dengan berbagai cara yang dihalalkan.

Seperti apakah itu?

NYONTEK.

Dalam perkembangannya, nyontek udah gak lagi Cuma sekedar pas ujian. Gak Cuma nanya teman terdekat, atau lewat contekan yang kita simpen. Tapi nyontek udah menjadi kebiasaan yang gak kita sadari. Lenapa bisa begitu?
 Ya demi nilai yang bagus dooooonnnggg. Dan mencegah dihukum guru.

Maka sekarang, nyontek bukan hanya sekedar mencuri jawaban teman, tapi juga kita berbohong. What?! Ya, kita(buat yang ngerasa aja. Gue berharap sih gue gak gitu ya-termasuk anda yang baca) gak berbuat jujur dan berbuat gak adil dengan teman-teman yang lain berjuang keras.

Kalau gitu, inilah fakta penting tentang nyontek.
*Nyalin kerjaan (PR/PS) temen itu NYONTEK
*Copy-paste tugas temen itu NYONTEK
*DLL

Pikirkan sendiri aja perbuatan tidak jujur dan tidak fair yang udah kita lakukan selama “belajar” di sekolah/universitas.

Sedih memang karena kompetisi ini juga, relasi antar murid gak terjalin dengan baik. Apalagi, kalau ada anak yang terlalu berkompetisi dalam studinya dan belajar mati-matian. Yah, ending2nya dia sulit bergaul dan biasa kita sebut KUPER baca: kurang pergaulan. Sedih kalau gue tahu ada orang yang terlalu ngejar nilai dan akhirnya, dia gak bisa nikmatin dunia luar.. my room is my world… hmmmmmm

Lalu, bagaimana solusinya?

SISTEM PENDIDIKAN KOMPETTITIF red: KERJA SAMA
Ya, dengan system pendidikan yang mengutamakan kerja sama, tentunya siswa akan lebih termotivasi untuk menjalin relasi demi mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya dibandingkan mempelajari sesuatu yang tidak disenangi dan diketahui nya akan diapakan pelajarannya nanti. Yaaaahhh… begitulah…

Liaht ajalah tontonan di luar negeri. Seneng ngelihat siswanya “berkompetisi” bukan demi nilai atau sesuatu yang gak akan dipakainya nanti untuk masa depannya.

Sayang ya.. PEMERINTAH TAHU KALAU SISTEM PENDIDIKANNYA SALAH TAPI DIBIARIN AJA.
Iyalah, supaya mereka bisa terus-terusan rapat, ngubah system kurikulum, system ujian, SEENAK JIDAT MEREKA . kenapa? Rapat itu pake budget looohhh… makan pun dibayarin, rapatpun bisa dimanapun disuakin, dan ujung-unjungya, DUIT RAKYAT KOK. Duit yang bertitle”DEMI PENDIDIKAN PERUT BANGSA”
Lalu juga aka nada studi banding dengan Negara lain tapi, yaudah. YANG PENTING JALAN-JALANNYA.

Ada yang tersinggung? Lalu mau mengajukan gue atas tuduhan pencemaran nama baik? Lalu gue akan duduk di kursi panas?
Well, ini Cuma pendapat bocah 17 tahun yang selama ini memang melihat hal seperti itu. Kalau memang salah, ya ngomong baik-baik lah. Yang ngajuin ke meja hijau itu kan pasti orang-orang berduit pengen eksis. Kalau memang bisa dinasihati dan diomongin baik-baik, kenapa harus cepat tersulut emosi?

Yah,namanya juga jeleknya udah ketahuan.. harus segera ditutupi kan…

Ah,udah ah. Mending juga jalanin aja dengan senang hati.. makan hati akalu ngebahas system pendidikan di Indonesia dengan menter-menteri yang ngkunya berpendidikan tapi sebenernya ya itu tadi. Terlahir dari system pendidikan yang salah, maka para pejabatanya pun punya system pemikiran yang SALAH. Persis kayak yang gue tulis di atas. Dampak dari system pendidikan kompetisi adalah lulus,gelar,duit. Ngerti kan kenapa Indonesia banyak koruptor?

Hah, udahlah. Sakit hati doing nulis beginian. Lebih baik berdoa supaya pemerintah itu bisa masuk sorga. Karna doain pemerintah bisa berubah itu sama aja kayak berharap Bumi jadi bentuk segitiga. Yok, ba baiii

Okay, ini udah cukup banyak…
Segini dulu mungkin..
Next post gue akan  nulis lebih banyak..